
amanatweb.net- Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang mengumumkan pemangkasan jam operasional dan peniadaan layanan akhir pekan, Kamis (24/9/2026).
Kepala Perpustakaan UIN Walisongo, Bahrul Ulumi menjelaskan bahwa penyesuaian jadwal tersebut merupakan langkah penyelarasan operasional dengan aturan standar instansi pemerintah.
“Sebenarnya tidak ada pemotongan jam pelayanan. Kami hanya mengembalikan operasional perpustakaan keasas normatif seperti instansi pemerintah pada umumnya, yaitu lima hari kerja dari Senin sampai Jum’at,” jelasnya.
Ia mengatakan alasan utama perubahan jam operasional perpustakaan UIN Walisongo adalah mempertimbangkan efisiensi operasional serta penyelarasan kerja normatif pemerintah.
“Alasan utamanya adalah efisiensi dan penyesuaian dengan aturan normatif jam kerja ASN. Selain itu layanan sore akhir pekan yang sebelumnya dibuka juga merupakan atensi tambahan dari kami,” tuturnya.
Bahrul menyebut evaluasi terhadap berbagai skema kerja termasuk shifting akhir pekan sebelumnya telah dilakukan, namun berdampak pada berkurangnya personel saat lonjakan pengunjung di awal minggu.
“Pihak perpustakaan telah mencoba berbagai evaluasi penataan jadwal kerja termasuk sistem shifting ke hari Sabtu, namun skema tersebut justru memicu penumpukan tugas dan kekurangan staf pada hari Senin yang beban kerjanya tinggi,” ujarnya.
Ia menilai bahwa penambahan jam kerja tanpa insentif lembur dinilai memberatkan staf perpustakaan UIN Walisongo.
“Kami mengembalikan jam operasional ke jadwal normal setelah staf keberatan atas tambahan jam kerja tanpa skema lembur sembari mengokoordinasikan opsi lembur dihari Sabtu ke pihak rektorat,” tambahnya.
Bahrul memahami tingginya kebutuhan ruang belajar mahasiswa UIN Walisongo.
“Saya sangat memahami protes mahasiswa di Instagram karena tren perpustakaan saat ini sudah bergeser menjadi tempat nugas,” tuturnya.
Ia mengungkapkan pihak perpustakaan mengusulkan pembukaan kembali layanan hari Sabtu kepada Rektorat dan Satuan pengawasan internal (SPI).
“Oleh karena itu, dalam jangka pendek, saya sedang menyiapkan dokumen dan alasan kuat untuk bernegosiasi dengan SPI serta Rektor agar layanan di hari Sabtu bisa kembali diizinkan,” akunya.
Bahrul menambahkan bahwa bahwa perubahaan jam operasional yang baru masih bersifat sementara.
“Karena penyesuaian ini baru berjalan satu minggu, untuk saat ini saya katakan sifatnya masih sementara,” terangnya.
Sembari menunggu hal tersebut, dirinya mengimbau mahasiswa untuk memanfaatkan platform digital perpustakaan UIN Walisongo.
“Layanan berbasis aplikasi seperti WaliSongo e-Library dan repositori E-Prints tetap dibuka penuh dan bisa diakses kapan saja. Kami sangat menyarankan mahasiswa memanfaatkannya, terutama yang sedang menggarap proposal dan skripsi,” ucapnya.
Ia mengatakan bahwa perubahan jadwal perpustakaan UIN Walisongo berdampak pada tenggat pengembalian buku. Guna mengantisipasinya, pihak perpustakaan membebaskan denda dan mengarahkan pemustaka melakukan perpanjangan mandiri secara daring.
“Untuk pengaruhnya pasti ada, misalnya bagi mahasiswa yang tenggat waktu pengembalian bukunya di hari libur layanan, dari pihak perpustakan mengambil kebijakan untuk tidak mengenakan denda atas keterlambatan akibat penyesuaian jadwal,” katanya.
Mahasiwa Program Studi (Prodi) Pendidikan Agama Islam (PAI), Liahsana Nadya Putri mengaku kecewa dengan perubahan jam operasional Perpustakaan UIN Walisongo di akhir pekan.
“Jujur sedikit kecewa karena justru di hari libur kami bisa mengakses literatur tanpa terbebani jam kuliah dan lebih tenang. Hari aktif itu ramai sekali, terutama oleh mahasiswa baru yang kerja kelompok, dan kondisi membludak seperti itu buat tidak nyaman,” akunya.
Ia menilai keputusan perubahan jam operasional Perpustakaan UIN Walisongo bisa mempertimbangkan kembali untuk mahasiswa penutupan layanan akhir pekan.
“Menurut saya kebijakan ini kurang tepat. Seharusnya ada transparansi terlebih dahulu mengenai alasan di balik penutupan di akhir pekan, apakah karena staf lelah atau ada kendala lain, supaya mahasiswa bisa mengerti,” ujarnya.
Nadya merasa sebagai Mahasiswa bergolongan uang kuliah tunggal (UKT) tinggi menilai pembatasan layanan Perpustakaan UIN Walisongo tidak sebanding dengan biaya pendidikannya. Menurutnya, mengandalkan kunjungan sore hari usai kuliah tidak efektif akibat kelelahan fisik dan pikiran.
“Bagi saya yang membayar UKT Golongan V, penyesuaian jam operasional ini terasa kurang sebanding. Karena Jadwal kuliah hampir selalu selesai sore, dan waktu mengerjakan tugas bisa dilakukan di akhir pekan,” ujarnya.
Mahasiswa Prodi Ilmu Falak, Arsy Hartika mengaku dirugikan dengan adanya perubahan jam operasional Perpustakaan UIN Walisongo.
“Senin sampai Jumat itu penuh dengan jadwal kuliah dan kegiatan lain, jadi jarang sekali bisa ke perpustakaan di hari kerja. Biasanya hari Sabtu jadi andalan saya meskipun bukanya sebentar. Begitu jam operasional berubah dan Sabtu ditutup, saya merasa waktu luang untuk nugas dan datang ke perpustakaan benar-benar hilang,” tuturnya.
Arsy menilai kebijakan baru ini belum menjawab kebutuhan mahasiswa. Ia mengusulkan agar perpustakaan UIN Walisongo tetap buka di hari Sabtu dengan durasi terbatas, ketimbang menutup total layanan akhir pekan.
“Tepat atau tidaknya kebijakan ini tergantung sudut pandang, tetapi bagi saya pribadi akibat hal ini kebutuhan mahasiswa belum terpenuhi. Kalau memang Sabtu Minggu tidak bisa buka penuh, tidak apa-apa dibuka hari Sabtu saja meski hanya dari sebentar,” tutupnya.
Reporter: Evelyn Atha Nasywa
Editor: Dinda Alfiani


